Jumat, 21 Desember 2012

Model-model penelitian Filsafat

BAB 1
PENDAHULUAN
Filsafat Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mereka yang berpikiran maju yang  ditandai dengan sifat terbuka, rasional, kritis obyektif, berorientasi ke depan, dinamis dan mau mengikuti zaman, tanpa meninggalkan prinsip atau ajaran dasar yang bersifat asasi dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran Filsafat Islam. Sedangkan bagi mereka yang bersifat tradisional yakni berpegang teguh kepada doktrin ajaran al-Qur’an dan al-Hadist secara tekstual, cenderung kurang mau menerima filsafat, bahkan menolaknya karena takut dapat melemahkan iman.
Jika kita berpikir bahwa ajaran Islam adalah doktrin yang tidak boleh dinalar sesuai dengan akal pikiran yang lurus, apa bedanya dengan agama selain Islam yang menjejalkan secara paksa dogma ajaran-ajaran agamanya meski tidak sesuai dengan logika. Namun demikian, dalam berfilsafat kita juga harus meyakini hakikat otak dan kapasitas berpikir manusia yang sangat terbatas. Sehingga kita dapat menyadari bahwa hakikat sesuatu belum tentu sama dengan hasil pemikiran manusia. Dan mengembalikan apa yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia kepada wahyu.
Jika agama membahas tentang segala sesuatu di alam dengan tujuan segala sesuatu yang maujud, lantas pada sisi mana terdapat pertentangan antara agama dan filsafat. Bahkan agama dapat memberikan asumsi-asumsi penting sebagai subyek penelitian filsafat. Filsafat dapat menjadi alat untuk memahami dan mencari kebenaran tentang ajaran agama jika pemeluknya selalu menuntut dirinya untuk memahami ajaran dan keyakinan agamanya secara rasional. Dengan demikian filsafat tidak lagi menjadi “musuh” agama, namun menjadi alat untuk menguak tabir dan ma’rifat terhadap rahasia dan doktrin-doktrin suci agama. Dengan demikian, pasti akan bertambah penghayatan seorang muslim kepada agamanya.
Dengan satu ungkapan dapat dikatakan bahwa filosof agama mestilah dari penganut dan penghayat agama itu sendiri. Lebih jauh, filosof-filosof hakiki adalah pencinta-pencinta agama yang hakiki. Sebenarnya yang mesti menjadi subyek pembahasan di sini adalah agama mana dan aliran filsafat yang bagaimana memiliki hubungan keharmonisan satu sama lain. Adalah sangat mungkin terdapat beberapa ajaran agama, karena ketidaksempurnaannya, bertolak belakang dengan kaidah-kaidah filsafat, begitu pula sebaliknya, sebagian konsep-konsep filsafat yang tidak sempurna berbenturan dengan ajaran agama yang sempurna. Karena asumsinya adalah agama yang sempurna bersumber dari hakikat keberadaan dan mengantarkan manusia kepada hakikat itu, sementara filsafat yang berangkat dari rasionalitas juga menempatkan hakikat keberadaan itu sebagai subyek pengkajiaannya, bahkan keduanya merupakan bagian dari substansi keberadaan itu sendiri. Keduanya merupakan karunia dari Tuhan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Filsafat membutuhkan agama (wahyu) karena ada masalah-masalah yang berkaitan dengan dengan alam gaib yang tak bisa dijangkau oleh akal filsafat. Sementara agama juga memerlukan filsafat untuk memahami ajaran agama. Berdasarkan perspektif ini, adalah tidak logis apabila ajaran agama dan filsafat saling bertolak belakang.


BAB 2
PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN FILSAFAT
Dari segi bahasa, filsafat Islam terdiri dari gabungan kata filsafat dan Islam. Kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan kata sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian secara bahasa filsafa berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Sedangkan menurut para ahli seperti Al Farabi, filsafat merupakan ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada[1]. Yang meliputi di dalam nya Tuhan, alam dan manusia.
 Selanjutnya kata islam berasal dari bahasa Arab aslama, yuslimu, islaman yang berarti patuh, tunduk, berserah diri serta memohon selamat dan sentosa. Kata tersebut berasal dari salima yang berarti selamat, sentosa, aman dan damai. Islam juga sebagai suatu istilah atau nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW .
Selanjutnya mengenai pegertian Filsafat islam banyak para pakar yang berbeda pendapat. Musa Asy’ari, mengatakan bahwa Filsafat Islam itu pada dasarnya merupakan medan pemikiran yang terus berkembang dan berubah.Oleh karena itu perlu dirumuskan prinsip – prinsip dasar Fisafat Islam, agar dunia pemikiran Islam terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Lebih lanjut Musa Asy’ari berpenadapat bahwa Filsafat Islam dapatlah diartikan sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak Islam. Islam disini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran.
Amin Abdullah mengatakan : “Meskipun saya tidak setuju untuk mengatakan bahwa Filsafat Islam tidak lain dan tidak bukan adalah rumusan pemikiran Muslim yang ditempati begitu saja dengan konsep Filsafat yunani, namun sejarah mencatat bahwa mata rantai yang mengubungkan gerakan pemikiran Filsafat Islam era kerajaan Abbasiyah dan dunia luar di wilayah Islam, tidak lain adalah proses panjang asimilasi dan akulturasi kebudayaan Islam dan kebudayaan yunani lewat karya – karya filosof Muslim, seperti al – Kindi (185H/801M-260H/873M). al – farabi (258H/870M-339H/950M). Ibnu Miskawih (320H/923M-421H/1030M). Ibnu Sina (370H/980M-428H/1037M), al – Ghozali (450H/1058M-505H/1111M, dan Ibnu Rusyd (520H/1126M-595H/1198M). Filsafat profetik (kenabian), sebagai contoh, tidak dapat kita peroleh dari karya -karya Yunani. Filsafat kenabian adalah trade mark Filsafat Islam. Juga karya -karya Ibnu Bajjah (wafat 533H/1138M), Ibnu Tufail (wafat 581H/1185M) adalah spesifik dan orisinal karya filosof Muslim. Memang al – Qur’an membawa cara yang sama sekali baru untuk melihat Tuhan dan alam, dan juga membahas hukum- hukum yang tidak dapat diredusir dalam filsafat Yunani.
Sedangkan  Damardjati Supadjar berpendapat bahwa dalam istilah Filsafat Islam terdapat dua kemungkinan pemahaman konotatif. Pertama, Filsafat Islam dalam arti Islam filsafat tentang Islam yang dalam bahasa Inggris kita kenal sebagai Philosophy of Islam. Dalam hal ini Islam menjadi bahan telah, obyek material suatu studi dengan sudut pandang atau obyek formalnya, yaitu filsafat. Jadi di sini Islam menjadi objeknya. Kemungkinan kedua , ialah Filsafat Islam dalam arti Islamic Philosophy,  yaitu suatu filsafat yang Isami atau bisa di katakan sebagai filsafat yang bernuasa islam.
Dalam pada itu dijumpai pendapat Ahmad Fuad al – Ahwani yang mengatakan bahwa Filsafat Islam ialah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam – macam masalah manusia atas dasar ajaran – ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, Filsafat Islam dapat diketahui melalui lima cirinya sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi sifat dan coraknya, filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumberkan al – Qur’an dan hadits. Dengan sifat dan coraknya yang demikian itu, filsafat Islam  berbeda dengan filsafat Yunani atau Filsafat Barat pada umumnya yang semata – mata mengandalkan akal pikiran (rasio). Kedua, dilihat dari segi ruang lingkup pembahasannya, filsafat Islam mencakup pembahasan bidang fisika atau alam raya yang selanjutnya disebut bidang kosmologi; masalah ketuhanan dan hal – hal lain yang bersifat non materi, yang selanjutnya disebut bidang metafisika ; masalah kehidupan di dunia, kehidupan di akherat masalah ilmu pengetahuan , kebudayaan dan lain sebagainya; kecuai masalah zat Tuhan. Ketiga, dilihat dari segi datangnya filsafat Islam, sejalan dengan perkembangan ajaran Islam itu sendiri, tepatnya ketika bagian dari ajaran Islam memerlukan penjelasan secara rasional dan filosofis. Keempat, dilihat dari segi yang mengembangkan, filsafat Islam dalam arti materi pemikiran filsafatnya, bukan kajian sejrahnya, disajikan oleh orang – orang yang beragama Islam, seperti al – Kindi, al – Farabi, Ibnu Sina, al – Ghozali, Ibnu Rusyd, Ibnu Tufail, Ibnu Bajjah dan sebagainya. Kelima, dilihat dari segi kedudukannya, filsafat Islam sejajar dengan bidang studi keislaman lainnya seperti fikih, ilmu kalam, tasawuf, sejarah kebudayaan Islam dan pendidikan Islam.
B.       MODEL-MODEL PENELITIAN FILSAFAT ISLAM

1.      Model M. Amin Abdullah
Hasil penelitian yang di lakukan oleh Amin Abdullah telah di angkat dalam bukunya yang berjudul the ideal of universality ethical norm in Ghazali ang Khant. Kalau kita melihat dari judulnya penelitian yang di lakukan bercoak deskriptis yaitu penelitian yang bersifat menjelajah dimana pengethuan mengenai persoalan masih sangat kurang atau belum ada sama sekali, dan teori-teorinya belum ada atau belum di perlukan[2]. Sehingga dalam hal ini Amin Abdullah meneliti dengan dengan studi kepustakaan, yaitu dengan mengambil semua bahan kajian dari berbagi sumber baik berasal dari tokoh tersebut maupun bersal dari orang lain yang menuli tentang tokoh itu.
Bahan-bahan tersebut selanjutnya di teliti seksama. Dalam hal ini Amin Abdullah mencoba untuk membandingkan pemikiran atar kedua tokoh yaitu Al Ghazali dan Immanuel Kant.
2.      Model Otto Horrassowitz, Majid Fakhry dan Harun Nasition
Otto Horrassowitz juga nampaknya meneleliti mengenai tokoh filsafat islam. Pemikirannya di tujukan kepada pemikiran filasafat islam abad klasik, yaitu :
a.       Dari al-Kindi dijumpai pemikiran filsafat tentang Tuhan , keterhinggaan, ruh dan akal.
b.      Dari al-Razi dijumpai pemikiran filsafat tentang teologi, moral, metode, metafisika, Tuhan, ruh, materi, ruang, dan waktu.
c.       Dari al-Farabi dijumpai pemikiran filsafat tentang logika, kesatuan filsafat, teori sepuluh kecerdasan, teori tentang akal, teori tentang kenabian, serta penafsiran atas al-Qur’an.
d.      Dari Ibnu Miskawih dijumpai pemikiran filosafat tentang moral, pengobatan rohani, dan filsafat sejarah.
e.       Dari  Ibnu Sina dikemukakan pemikiran filsafat tgentnag wujud, hubungan jiwa dan raga, ajaran kenabian, Tuhan dan dunia.
f.       Dari Ibnu Bajjah dijumpai pemikiran filsafat tentang materi dan bentuk, psikologi, akal dan pengetahuan, Tuhan, Sumber Pengetahuan, politik, etika, dan tasawuf.
g.      Dari Ibnu Tufail dikemukakan pemikiran filsafat tentang akal dan wahyu sebagai yang dapat saling melengkapi yang dikemas dalam novel fiktifnya berjudul Hay Ibnu Yaqzan yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia; tujuan risalah, doktrin tentang dunia, tuhan, kosmologi cahaya, epistomologi, etika, filsafat dan agama.
h.      Dari Ibnu Rusyd, dikemukakan pemikiran filsafat tentang hubungan filsafat dari agama, jalan menuju Tuhan, jalan menuju pengetahuan, jalan menuju ilmu, dan jalan menuju wujud.
i.        ari Nasir al – Din Tusi dikemukakan pemikiran filsafat tentnag akhlak nasiri, ilmu rumah tangga, politik sumber filsafat praktis, psikologi, metafisika, Tuhan, kenabian, baik dan buruk, serta logika.
Selain daripada yang tersebut di atas beliau juga meneliti tentang riwayat hidup dan karya-karya yang dilahirkan oleh para tokoh tersebut. Dengan
Selanjutnya Model penelitian yang serupa juga di lakukan oleh Majid Fakhri. Dalam bukunya yang berjudul A History Islamic philosofis yang di terjemahkan oleh Mulyadi Kartanegara menjadi sejarah filsafat islam.
Penelitiannya tersebut nampaknya menggunakan campuran. Yaitu selain menggunakan pendekatan historis juga menggunakan pendekatan kawasan, bahkan pendekatan substansi. Melalui pendekatan histories, ia mencoba meneliti latar belakang munculnya berbagai pemikiran filsafat dalam islam. Sedangkan dengan pendekatan kawawsan, ia mencoba mengemukakan berbagai pemikiran filsafat yang dihasilkan dari berbagai tokoh tersebut.
Harun Nasution juga menggunakan pendekatan tokoh dan Historis, beliau mencoba untuk menyajikan pemikiran filasafat berdasarkan tokoh yang di telitinya dan juga Harun nasution mencoba menyajikan tentang sejarah timbulnya pemikiran filsafat islam yang di mulai dengan kontak pertama antara islam dan ilmu pengetahuan serta filafat Yunani.
3.      Model Ahmad Fuad Al-Ahwani
Ahmad Fuad Al – Ahwani ntermasuk pemikir modern dari Mesir yang banyak mengkaji dan meneliti bidang filsafat Islam. Salah satu karyanya dalam bidang filsafat berjudul Filsafat Islam. Dalam bukunya ini ia selain menyajikan sekitar problem filsafat Islam juga menyajikan tentang zaman penerjemahan, dan filsafat yang berkembang itu kawasan masyriqi dan maghribi. Di kawasan maghribi ia kemukakan nama al – Kindi, al – farabi, dan Ibnu Sina. Sedangkan di kawasan maghribi  kemukakan Ibnu bajjah, Ibnu Tufail dan Ibnu Rusyd. Selain dengan mengemukakan riwayat hidup serta karya dari masing – masing tokoh filosof tersebut, juga dikemukakan tentang jasa dari masing – masing filosof tersebut serta pemikirannya dalam bidang filsafat.
Metode penelitian yang ditempuh Ahmad Fuad Al-Ahwani adalah penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan bahan -bahan kepustakaan. Sifat dan coraknya adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sedangkan penedekatannya adalah pendekatan yang bersifat campuran, yaitu pendekatan histories, pendekatan kawasan dan tokoh. Melalui pendekatan historis, ia mencoba menjelaskan latar belakang timbulnya pemikiran filsafat dalam Islam. Sedangkan dengan pendekatan kawasan ia mencoba membagi tokoh – tokoh filosof menurut tempat tinggal mereka, dan dengan pendekatan tokoh, ia mencoba mengemukakan berbagai pemikiran filsafat sesuai dengan tokoh yang mengemukakannya.
pada umumnya penelitian yang dilakukan oleh para ahli bersifat penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan bahan – bahan bacaan sebagai sumber rujukannya. Metode yang digunakan umumnya bersifat deskriptif analistis. Sedangkan pendekatan yang digunakan umumnya pendekatan histories, kawasan dan substansial.
Dewasa ini setahap demi setahap pemikiran filsafat Islam atau berpikir secara filosof sudah mulai diterima masyarakat. Berbagai kajian di bidang keagamaan selalu di lihat dari segi pemikiran filosofnya, sehingga makna substansial, hakikat, inti dan pesan spiritual dari setiap ajaran keagamaan tersebut dapat ditangkap dan dihayati dengan baik. Tanpa bantuan filsafat, maka masyarakat akan cenderung terjebak kedalam bentuk ritualistic semata, tanpa tahu apa pesan filosofis yang terkandung dalam ajaran tersebut. Filsafat juga semakin diperlukan dalam situasi yang semakin memadu dan menyatu antara satu bidang pengetahuan dengan pengetahuan lainnya.
BAB 3
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa Filsafat Islam adalah suatu ilmu yang di dalamnya ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran segala sesuatu dan di kaji oleh para filosof muslim itu sendiri.
Ada beberapa Model penelitian filsafat Islam antara lain :Model M. Amin Abdulla:Penelitian yang dilakukan termasuk kategori penelitian kualitatif berdasarkan sumber kepustakaan  yang bercorak deskriptif analitis dan menggunakan pendekatan studi tokoh dan komparatif studi khususnya di bidang etika.
Model Otto Horrassowitz , Majid Fakhry dan Harun Nasution:Penelitian yang dilakukan ketiganya termasuk penelitian kualitatif dan metodenya adalah deskriptis analitis. Akan tetapi pendekatan yang digunakan Otto dan Harun Nasution adalah pendekatan historis dan tokoh sedangkan Majid Fakhry menggunakan pendekatan campuran antara historis, kawasan, dan pendekatan substansi.
Sedangkan Model Ahmad fuad Al-Ahwani:Penelitian yang dilakukan termasuk kategori penelitian kualitatif berdasarkan sumber kepustakaan yang sifat dan coraknya adalah penelitian deskriptif kualitatif dan pendekatannya bersifat campuran antara pendekatan historis, kawasan dan tokoh.


DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,1998.
A Mustofa,Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia,. 2004.
Asmoro Achmadi, filsafat umum, jakarta, Rajawali pers, 2011
http://arfiasta.wordpress.com/2009/12/15/model-penelitian-filsafat-islam/
http://ibnulbasyar.wordpress.com/2012/12/9/model-penelitian-filsafat-islam/


[1] Asmoro Achmadi, filsafat umum, jakarta, Rajawali pers, 2011, hlm 2
[2] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta, Pt Raja grafindo persada, 2006, hlm 173

Tidak ada komentar: